Skip to content

Gundono dan Wayang yang Tak Selesai

7 November 2009

Ki Slamet Gundono 2Di tangan Slamet Gundono, wayang adalah ihwal yang tak selesai. Selalu saja ada improvisasi yang kadang edan kadang nakal, lucu, juga politis, yang menyertai pertunjukan-pertunjukan wayang Gundono. Barangkali, kita akan menyimak paradoks: sebagaimana seni tradisi lainnya, wayang sebenarnya telah dibeku-bakukan oleh seperangkat pakem yang selama ratusan tahun terus dilestarikan dan enggan dilanggar. Tapi di tangan Gundono, wayang adalah sesuatu yang cair, plastis, dan tak punya demarkasi.

Baca selanjutnya…

Ki Slamet Gundono

7 November 2009

Ki Slamet GundonoSlamet Gundono, harus diakui sebagai dalang muda yang kreatif. Sebagai pengagum Ki Nartosabdho (alm), ia ingin menjadi dalang wayang kulit yang bergaya klasik. Kemampuan dan karakter vokalnya cukup bagus, bahkan bisa disebut reinkarnasinya Ki Narto. Soal olah gerak boneka wayang alias sabet juga standar.

Hanya, dia kalah dalam persaingan antar-dalang. Lobi dan jaringan dengan konsumen dan broker sudah dikuasai dalang-dalang mainstream, yaitu Ki Manteb Sudharsono dan Ki Anom Suroto untuk gaya Surakarta dan Ki Hadi Sugito untuk gaya Yogyakarta. Karena itulah, ia mengembangkan gaya pertunjukan sendiri, seperti wayang suket yang boneka wayangnya terbuat dari rumput atau wayang gremeng yang dimainkan tanpa boneka wayang kulit. Nyatanya, dia sukses dengan hasil eksplorasi kreatifnya. Baik ditilik secara eksistensialis maupun dari sudut pandang ekonomis.

Baca selanjutnya…

Sepatu Genderuwo

5 November 2009

TETES embun yang bergelayut di ujung-ujung rumput seketika buyar tersapu langkah kaki seorang ibu muda yang trengginas. Dewi Maerah, wanita itu, memaksa kakinya melangkah lebar menuju ujung gang tempat penjual nasi bungkus.

Saat nasi sudah di tangan, Dewi Maerah cepat kembali menuju dapur. Sebuah panci penuh air diletakkan di atas tungku panas. Dia berpacu dengan waktu sebelum Basudewa bangun dan segera berangkat berburu. Benar juga, Basudewa bangun saat semuanya sudah terhidang.

”Dinda May, sepatu Kanda dah kering kan? Semalam Kanda mimpi dapat sepatu baru,” ujar Basudewa sambil nyeruput kopi. Jawaban Dewi Maerah tenggelam di antara gerojokan air mandi. ”Akang jangan, apaan sich Kang, malu atuh. Sepatu noh di tempat biasa,” jawab Dewi Maerah sembari sekuat tenaga menahan pintu yang coba didobrak Basudewa.

Baca selanjutnya…

Jamu Kembang Kunir Wangi

5 November 2009

Jamu-Kembang-Kunir-WangiMATAHARI baru saja masuk ke peraduannya. Puluhan kalong keluar menyambut senjakala yang baru saja datang. Sementara itu, warga Karang Kadempel bergegas menyiapkan kenduri malam itu. Nyala oncor bergoyang-goyang halus memandu jalan menuju rumah Semar.

Di rumah Semar, Lurah Karang Kadempel itu, satu-dua ibu-ibu bergantian mengisi puluhan gelas yang ditata di atas meja besar bertaplak sederhana. Gelas itu diisi ramuan khusus.

Diawali kedatangan Pandawa, berturut-turut kesatria Ngamarta memasuki pelataran rumah Semar. Malam itu, sesepuh punakawan itu memang sedang bikin slametan. Acaranya ujub syukur lantaran Semar tak sengaja menemukan ramuan tradisional kuno, yaitu Jamu Kembang Kunir Wangi. Bahan jamu itu tumbuh di antara bukit para dewa dan para raksasa.

Baca selanjutnya…

Iklan Anak

5 November 2009

Iklan-AnakMUSYAWARAH besar (mubes) partai besar, seperti Partai Ciplukan, Partai Gubuk Penceng, dan Partai Endas Glundung, dilaksanakan di jantung Kota Ngamarta. Mubes itu bertempat di utara Sungai Cilinglung yang baunya kayak jengkol karena polusi parah.

Sudah beberapa hari ini, mobil-mobil mewah petinggi partai berderet di tepi sungai yang airnya hitam kayak rawon itu. Penguasa partai, mulai utusan pusat hingga utusan kelas kampung, tak ketinggalan hadir. Mulai Mrs Baladewa Alfayed sampai Dul Jonni juga datang.

Mubes itu mengagendakan pembahasan iklan kampanye yang spektakuler. Sebab, sudah beberapa kali Partai Ciplukan selalu gagal menyedot perhatian publik. Malah, hasil perolehan suara di lapangan selalu jeblok karena iklan yang tidak cerdas. Akhirnya, hasil mubes secara bulat menyatakan bahwa seluruh partai bisa menghalalkan segala cara dalam berkampanye.

Baca selanjutnya…

Hukum Penabur

5 November 2009

Hukum-PenaburKELUARGA Semar selalu dididik bekerja keras dan berbuat baik pada siapa pun. Terutama Bagong. Meski tubuhnya mblendhuk-lemu linthu, dia suka menolong dan baik hati. Namun, entah kenapa, pagi ini suasana hatinya berubah. Itu terlihat saat tangannya asyik mencuci piring di dekat sumur belakang rumah.

”Busyet, dah. Membosankan. Lagi-lagi khotbah kebaikan mulu. Kagak ada lainnya. Moo! Makan tuh kebaikan!” seru Bagong mengomentari Semar yang sedang mandi.

”Ngger, kita ini kawula alit. Jangan mimpi cepat panen besar seperti Gatotkaca, Wiyasa, atau Kresna,” timpal Semar. Bagong tambah mbesengut. Klontang..krompyang..tang! Beberapa peranti makan dari seng sengaja ditendang Bagong sambil ngeloyor pergi tancap gas sepeda onthel (eh, emang sepeda onthel ada gasnya? Gimana sih dalangnya?)

Baca selanjutnya…

Hikayat Bom Rumah

5 November 2009

Hikayat-Bom-RumahRERIMBUNAN pohon, air mancur, dan sesekali celoteh gelatik juga poksay membuat istana kerajaan Ngastina seakan asri dan nyaman. Padahal, di salah satu ruangan dengan penjagaan ketat, asap putih pekat keluar dari sela bibir Duryudana. Di seberang meja, Dursasana mengerutkan dahinya. Sengkuni njengkerung, tubuhnya seolah rata dengan kursi yang didudukinya.

”Kepriben bae, Duryudana must be numero uno,” celoteh Dursasana. ”Pasti! Kalaisme kudu tembus semua lapisan,” tambah Duryudana. Sengkuni hanya diam, menerawang jauh. Imaginasinya mengingatkan kembali pada kegagalan yang sudah-sudah. Dan kata kuncinya tinggal: Lenyapkan target utama penghalang! Dan itu tak lain, Pandawa Lima yang kukuh dengan cinta dan kemerdekaan.

Baca selanjutnya…